Cara
yang dilakukan adalah terus-menerus mengasah bakat melalui latihan. Bakat tidak
akan berkembang bila tak ada penguat, sehingga kemudian hilang. Selain bakat,
mereka juga mempunyai minat terhadap bidang yang digeluti. Adanya minat juga
akan menguatkan bakat tersebut.
Berikut merupakan
langkah-langkah bagaimana cara psikolog dalam mengidentifikasi bakat dan
kreativitas seseorang:
Macam-Macam
Identifikasi:
Terdapat beberapa macam
identifikasi yaitu sebagai berikut:
1. Identifikasi Anak Berbakat Kreatif
Tes
kreativitas paling sering digunakan untuk mengidentifikasi siswa berbakat
kreatif dalam program anak berbakat. Kebanyakan program anak berbakat
berasaskan bahwa siswa keatif perlu diidentifikasi dan kreativitas perlu
diajarkan.Dalam seleksi siswa kreatif untuk mendapat tingkat kepercayaan yang
tinggi, sebaiknya menggunakan dua sumber untuk mengukur kreativitas. Misalnya
dengan tes kreativitas tapi juga dengan penilaian dari guru mengenai tingkat
kreativitas anak. Jika anak mencapai skor tinggi pada kedua criteria tersebut,
berarti anak itu benar-benar kreatif.
2. Penelitian
Penelitian
membantu kita memahami perkembangan kreativitas. Tes kreativitas dalam
penelitian dapat digunakan dengan 2 cara, pertama untuk mengidentifikasi
orang-orang kreatif dan membandingkan mereka dengan orang-orang biasa. Kedua,
tes kreativitas dalam penelitian dapat digunakan untuk menilai dampak pelatihan
kreativitas terhadap kekreatifan peserta.
3. Konseling
Tes
kreativitas dapat juga digunakan untuk bimbingan dan konseling siswa. Konselor
atau psikolog sekolah di sekolah dasar dan menengah memerlukan informasi
mengenai seorang siswa yang dikirim karena sikapnyayang apatis, tidak
kooperatif, berprestasi kurang, atau karena ada masalah lain.Tes kreativitas
dapat membantu konselor, guru, orang tua, dan siswa sendiri untuk mengenali dan
memahami bakat kreativitas yang terpendam. Informasi ini memungkinkan guru
untuk merancang kegiatan yang menantang dan menarik bagi siswa yang kreatif.
Berdasarkan uraian
tentang identifikasi kreativitas terdapat 3 macam identifikasi yaitu:
1. Identifikasi anak berbakat
2. Penelitian, dan
3. Konseling
Model
Identifikasi
1. Individual
Education Plan Model ( IEP)
Model
Rencana Pendidikan Individual ditujukan untuk menemukan anak – anak yang
memiliki bakat khusus yang spesifik, yang tidak mungkin diperolehnya melalui
program pendidikan di kelas regular. Jumlah anak yang tersaring hanya 2%.
Metode seleksi yang digunakan adalah studi kasus, tes IQ, dan staffing.
Objektif kurikulum dikembangkan untuk memberikan program yang sesuai dengan
kebutuhan spesifik individu.
2. The General Intellectual Ability Model
Model
Kecakapan Intelektual Umum ditujukan untuk menjaring siswa yang mempunyai taraf
IQ tertentu agar dapat mengikuti
pelayanan program pengayaan atau akselerasi. Jumlah anak yang tersaring
hanya 5%. Metode seleksi yang dipergunakan adalah tes IQ, tes kecakapan, dan
check list dari karakteristik keberbakatan.
3. The Specific Academic Aptitude Model
Model
Bakat Akademik Khusus ditujukan untuk mengidentifikasi anak berdasarkan pada
prestasi akademiknya dalam bidang studi tertentu, agar dapat diikutsertakan
dalam program akselerasi atau program pengayaan. Jumlah anak yang tersaring
berkisar antara 5-10% per bidang studi. Metode seleksi yang digunakan adalah
tes baku dalam bidang studi dan rekomendasi guru.
4. Revolving Door Identification Model (RDIM)
Model identifikasi ini dikembangkan oleh Renzulli,
yaitu setaip anak yang mencapai skor tinggi pada tes prestasi baku tertentu
dimasukkan ke dalam talent pool untuk diberikan berbagai program yang sesuai
dengan minatnya. Jika anak mampu menunjukkan prestasi dan pengikatan diri
terhadap tugas secara menonjol, anak dapat memasuki tahap berikutnya, yaitu
resource program. Di sini bakat anak dieksploitasi lebih jauh oleh guru. Jumlah
anak yang disaring sebanyak 20%. Metode seleksi yang digunakan bervariasi untuk
memperoleh sebanyak mungkin siswa yang memenuhi syarat.
Jenis
Alat untuk Mengukur Potensi Kreatif
1.
Kemampuan intelektual umum; “Pengukuran kemampuan intelektual umum diperoleh
melalui pengukuran kekuatan otot, kecakapan gerak, sensitivitas terhadap rasa
sakit, kecermatan dalam pendengaran dan penglihatan, perbedaan dalam ingatan
dan lain-lain yang semua disebut “tes mental”.
2.
Tes inteligensi umum; Salah satu perkembangan yang amat penting dalam
pengmbangan pengukuran intelegensi adalah timbulnya skala Wechsler dalam
mengukur inteligensi orang dewasa dengan menggunakan norma tes bagi perhitungan
IQ yang menyimpang.
3. Tes kelompok kontra tes individual; Tes
kelompok lebih banyak digunakan dalam system pendidikan, pelayanan pegawai,
industri dan militer. Tes kelompok dirancang untuk sekelompok tertentu,
biasanya tes kelompok menyediakan lembar jawaban dan “kunci- kunci” tes. Bentuk
tes kelompok berbeda dari tes individual dalam menyusun item dan kebanyakan
menggunakan item pilihan ganda.
4.
Pengukuran hasil belajar; Tes ini mengukur hasil belajar setelah mengikuti
proses pendidikan. Tes hasil belajar ini berbeda dengan tes bakat, tes
inteligensi, tes hasil belajar pada umumnya merupakan evaluasi terminal untuk
menentukan kedudukan individu setelah menyelesaikan suatu latihan atau
pendidikan tertentu. Penekanannya terutama pada apa yang dapat dilakukan
individu saat itu setelah mendapatkan pendidikan tertentu.
Potensi
kreatif dapat diukur melalui beberapa pendekatan yaitu:
1. Tes yang Mengukur Kreativitas Secara
Langsung
Sejumlah tes kreativitas telah
disusun dan digunakan, diantaranya tes dari Torrance untuk mengukur pemikiran
kreatif yang mempunyai bentuk verbal dan bentuk figural. Tes ini digunakan
pertama kali oleh Utami Munandar dalam penelitian disertasinya guna
membandingkan ukuran kreativitas verbal dengan ukuran kreativitas figural.
2. Tes yang Mengukur Unsur-Unsur Kreativitas
Kreativitas merupakan suatu
konstruk yang multi dimensional, terdiri dari berbagai dimensi yaitu dimensi
kognitif (berpikir kreatif), dimensi afektif (sikap dan kepribadian), dimensi
psikomotor (ketrampilan kreatif). Masing-masing dimensi meliputi berbagai
kategori, seperti dimensi kognitif dari kreativitas,berfikir divergen,mencakup
antara lain: kelancaran, kelenturan dan orisinalitas dalam berpikir, kemampuan
untuk merinci (elaborasi) dan lain-lain.
3. Tes yang Mengukur Ciri Kepribadian kreatif
Dari berbagai hasil
penelitian ditemukan paling sedikit 50 ciri kepribadian yang berkaitan dengan
kreativitas. Dari ciri-ciri ini disusun dengan skala yang dapat mengukur sejauh
mana seseorang memiliki ciri-ciri tersebut. Beberapa tes untuk mengukur
ciri-ciri khusus, diantaranya ialah:
a.
Tes mengajukan pertanyaan
b.
Tes Risk Taking, digunakan untuk menunjukan
dampak pengambilan resiko terhadap kreativitas
c.
Tes Figure preference yang menunjukan
preferensi untuk ketidakaturan sebagai salah satu ciri kepribadian kreatif
d. Tes
Sex Role Identity untuk mengukur sejauh mana seseorang mengidentifikasikan diri
dengan peran jenis kelaminnya.
4. Pengukuran Potensi Kreatif secara Non-Test
Mengatasi keterbatasan dari tes
kertas dan pensil untuk mengukur kreativitas, dirancang beberapa pendekatan
alternatif :
a. Daftar Periksa (Checklist) dan Kuesioner
b. Dartar Pengalaman
5. Pengamatan Langsung terhadap Kinerja
Kreatif
Mengamati bagaimana orang bertindak
dalam situasi tertentu, tampaknya merupakan teknik yang paling absah, tetapi
memakan waktu dan dapat pula bersifat subjekt
Berdasarkan uraian
jenis jenis alat untuk mengukur potensi kreativitas dapat dilakukan dengan
beberapa pendekatan yaitu:
1. Tes yang mengukur kreativiassecara
langsung.
2. Tes yang mengukur unsure-unsur kreativitas.
3. Tes yang mengukur ciri kepribadian kreatif.
4. Pengukuran potensi kreatif secara non-tes.
5. Pengematan langsung terhadap kinerja
kreatif.
LINGKUNGAN
YANG MERANGSANG PERKEMBANGAN BAKAT KREATIVITAS
Pada dasarnya setiap
anak memiliki potensi untuk kreatif, walaupun tingkat kreativitasnyaberbeda-beda.
Kreativitas, seperti halnya setiap potensi lain, perlu diberi kesempatan
danrangsang oleh lingkungan untuk berkembang. Perkembangkan kreativitas anak
bukan hanyadipengaruhi oleh lingkungan psikis saja, tetapi lingkungan fisik juga
memiliki andil yang cukupbesar. Ruang interior sebagai salah satu lingkungan
fisik dapat berperan sebagai pendorong atau“press” untuk mengembangkan
kreativitas anak, sebagai stimuli eksternal
Berikut ini beberapa peranan lingkungan
fisik pada perkembangan kreativitas:
1.
Peranan Lingkungan Keluarga Dalam
Mengembangkan bakat dan kreativitas
Peranan
keluarga bagi pengembangan kreativitas, bahwa peran besar dari lingkungan
keluarga dan keluarga dengan remaja kreatif, tidak banyak aturan diberlakukan
dalam keluarga dibandingakan keluarga yang biasa. Banyak diantara remaja yang
kreatif pernah mengalami masa krisis atau trauma dalam hidup mereka. Humor juga
merupakan cirri yang tampil dalam keluarga kreatif. Lebih dari separuh remaja
tinggi kreatifnya ada pada keluarga dimana salah seorang dari orang tua dinilai
sangat kreatif. Berikut ciri-ciri orang tua yang memupuk kreativitas anak ialah:
a.
Memberi lebih banyak kebebasan pada anak
b.
Menghormati keunikan anak
c.
Mempunyai hubungan emosional yang tidak menyebabkan ketergantungan
d. Orang
tua lebih menghargai prestasi dibandingksn dengan angka semata-mata
e.
Orang tua itu sendiri aktif,mandiri dan
menghargai kreativitas anak
f.
Serta menjadi model bagi anak
2. Peran Sekolah Dalam
Mengembangkan Kreativitas
Sekolah
mempunyai peran penting dalam perkembangan kreativitas anak, sebagai lingkungan
yang dapat memupuk dan menggali kreativitas anak. Untuk itu, diperlukan guru
yang memiliki kemampuan yang memadai agar dapat mewujudkan kreativitas.
3. Peranan masyarakat
dalam mengembangkan kreativitas
Dalam lingkungan
masyarakat, seorang anak dapat dipupuk bakat dan kreativitasnya. Namun untuk
mendapat hasil yang maksimal, diperlukan kerjasama antara ketiga lingkungan
fisik yaitu lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Peran serta
masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan pendidikan anak berbakat dapat
terwujud melalui berbagai bentuk kerja sama. Anak berbakat dapat mengunjungi
beberapa tempat kerja bisnis dan organisasi dan memperoleh pelatihan disana.
Pemimpin perusaahaan,tokoh-tokoh masyarakat yang memiliki keahlian atau
keterampilan dalam bidang tertentu dapat memberi ceramah di sekolah anak
berbakat.
Contoh Kasus:
Sampel penelitian
terdiri dari 1975 murid Sekolah Dasar kelas 4,5 dan kelas 6 Sekolah Dasar
negeri maupun Sekolah Dasar Swasta yang ada di Wilayah DKI Jakarta. Melalui
penjaringan yang dilakukan dengan tes inteligensi CFIT Skala 2B dan diikuti
oleh tes yang mengukur keberbakatan Renzulli yaitu tes inteligensi
WISC-Adapatasi Indonesia, tes kreativitas TKF dan Skala Pengikatan diri
terhadap tugas diperoleh sebanyak 67 anak berbakat. Kriteria keberbakatan yang
ditetapkan adalah taraf inteligensi 120 ke atas, taraf kreativitas 110 ke atas
dan taraf pengikatan diri terhadap tugas 132 ke atas.
Hipotesis penelitian
yang ditegakan mencakup adanya hubungan yang positif dan bermakna antara
masing-masing skala identifikasi anak berbakat dengan variabel keberbakatan dan
adanya nilai rata-rata pada masing-masing skala identifikasi anak berbakat dari
kelompok anak berbakat secara bermakna lebih tinggi dari pada kelompok anak
tidak berbakat.