Sabtu, 30 September 2017

Langkah-langkah Psikolog dalam Mengidentifikasi Bakat dan Kreativitas Seseorang

Cara yang dilakukan adalah terus-menerus mengasah bakat melalui latihan. Bakat tidak akan berkembang bila tak ada penguat, sehingga kemudian hilang. Selain bakat, mereka juga mempunyai minat terhadap bidang yang digeluti. Adanya minat juga akan menguatkan bakat tersebut.
Berikut merupakan langkah-langkah bagaimana cara psikolog dalam mengidentifikasi bakat dan kreativitas seseorang:
Macam-Macam Identifikasi:
Terdapat beberapa macam identifikasi yaitu sebagai berikut:
1.    Identifikasi Anak Berbakat Kreatif
Tes kreativitas paling sering digunakan untuk mengidentifikasi siswa berbakat kreatif dalam program anak berbakat. Kebanyakan program anak berbakat berasaskan bahwa siswa keatif perlu diidentifikasi dan kreativitas perlu diajarkan.Dalam seleksi siswa kreatif untuk mendapat tingkat kepercayaan yang tinggi, sebaiknya menggunakan dua sumber untuk mengukur kreativitas. Misalnya dengan tes kreativitas tapi juga dengan penilaian dari guru mengenai tingkat kreativitas anak. Jika anak mencapai skor tinggi pada kedua criteria tersebut, berarti anak itu benar-benar kreatif.

2.    Penelitian
Penelitian membantu kita memahami perkembangan kreativitas. Tes kreativitas dalam penelitian dapat digunakan dengan 2 cara, pertama untuk mengidentifikasi orang-orang kreatif dan membandingkan mereka dengan orang-orang biasa. Kedua, tes kreativitas dalam penelitian dapat digunakan untuk menilai dampak pelatihan kreativitas terhadap kekreatifan peserta.

3.    Konseling
Tes kreativitas dapat juga digunakan untuk bimbingan dan konseling siswa. Konselor atau psikolog sekolah di sekolah dasar dan menengah memerlukan informasi mengenai seorang siswa yang dikirim karena sikapnyayang apatis, tidak kooperatif, berprestasi kurang, atau karena ada masalah lain.Tes kreativitas dapat membantu konselor, guru, orang tua, dan siswa sendiri untuk mengenali dan memahami bakat kreativitas yang terpendam. Informasi ini memungkinkan guru untuk merancang kegiatan yang menantang dan menarik bagi siswa yang kreatif.
                        Berdasarkan uraian tentang identifikasi kreativitas terdapat 3 macam identifikasi yaitu:
1.    Identifikasi anak berbakat
2.    Penelitian, dan
3.    Konseling
Model Identifikasi
1.      Individual Education Plan Model ( IEP)
Model Rencana Pendidikan Individual ditujukan untuk menemukan anak – anak yang memiliki bakat khusus yang spesifik, yang tidak mungkin diperolehnya melalui program pendidikan di kelas regular. Jumlah anak yang tersaring hanya 2%. Metode seleksi yang digunakan adalah studi kasus, tes IQ, dan staffing. Objektif kurikulum dikembangkan untuk memberikan program yang sesuai dengan kebutuhan spesifik individu.

2.      The General Intellectual  Ability Model
Model Kecakapan Intelektual Umum ditujukan untuk menjaring siswa yang mempunyai taraf IQ tertentu agar dapat mengikuti  pelayanan program pengayaan atau akselerasi. Jumlah anak yang tersaring hanya 5%. Metode seleksi yang dipergunakan adalah tes IQ, tes kecakapan, dan check list dari karakteristik keberbakatan.

3.      The Specific Academic Aptitude Model
Model Bakat Akademik Khusus ditujukan untuk mengidentifikasi anak berdasarkan pada prestasi akademiknya dalam bidang studi tertentu, agar dapat diikutsertakan dalam program akselerasi atau program pengayaan. Jumlah anak yang tersaring berkisar antara 5-10% per bidang studi. Metode seleksi yang digunakan adalah tes baku dalam bidang studi dan rekomendasi guru.

4.      Revolving Door Identification Model (RDIM)
Model identifikasi ini dikembangkan oleh Renzulli, yaitu setaip anak yang mencapai skor tinggi pada tes prestasi baku tertentu dimasukkan ke dalam talent pool untuk diberikan berbagai program yang sesuai dengan minatnya. Jika anak mampu menunjukkan prestasi dan pengikatan diri terhadap tugas secara menonjol, anak dapat memasuki tahap berikutnya, yaitu resource program. Di sini bakat anak dieksploitasi lebih jauh oleh guru. Jumlah anak yang disaring sebanyak 20%. Metode seleksi yang digunakan bervariasi untuk memperoleh sebanyak mungkin siswa yang memenuhi syarat.


Jenis Alat untuk Mengukur Potensi Kreatif
1. Kemampuan intelektual umum; “Pengukuran kemampuan intelektual umum diperoleh melalui pengukuran kekuatan otot, kecakapan gerak, sensitivitas terhadap rasa sakit, kecermatan dalam pendengaran dan penglihatan, perbedaan dalam ingatan dan lain-lain yang semua disebut “tes mental”.
2. Tes inteligensi umum; Salah satu perkembangan yang amat penting dalam pengmbangan pengukuran intelegensi adalah timbulnya skala Wechsler dalam mengukur inteligensi orang dewasa dengan menggunakan norma tes bagi perhitungan IQ yang menyimpang.
3.  Tes kelompok kontra tes individual; Tes kelompok lebih banyak digunakan dalam system pendidikan, pelayanan pegawai, industri dan militer. Tes kelompok dirancang untuk sekelompok tertentu, biasanya tes kelompok menyediakan lembar jawaban dan “kunci- kunci” tes. Bentuk tes kelompok berbeda dari tes individual dalam menyusun item dan kebanyakan menggunakan item pilihan ganda.
4. Pengukuran hasil belajar; Tes ini mengukur hasil belajar setelah mengikuti proses pendidikan. Tes hasil belajar ini berbeda dengan tes bakat, tes inteligensi, tes hasil belajar pada umumnya merupakan evaluasi terminal untuk menentukan kedudukan individu setelah menyelesaikan suatu latihan atau pendidikan tertentu. Penekanannya terutama pada apa yang dapat dilakukan individu saat itu setelah mendapatkan pendidikan tertentu.

Potensi kreatif dapat diukur melalui beberapa pendekatan yaitu:
1.    Tes yang Mengukur Kreativitas Secara Langsung
            Sejumlah tes kreativitas telah disusun dan digunakan, diantaranya tes dari Torrance untuk mengukur pemikiran kreatif yang mempunyai bentuk verbal dan bentuk figural. Tes ini digunakan pertama kali oleh Utami Munandar dalam penelitian disertasinya guna membandingkan ukuran kreativitas verbal dengan ukuran kreativitas figural.
2.    Tes yang Mengukur Unsur-Unsur Kreativitas
            Kreativitas merupakan suatu konstruk yang multi dimensional, terdiri dari berbagai dimensi yaitu dimensi kognitif (berpikir kreatif), dimensi afektif (sikap dan kepribadian), dimensi psikomotor (ketrampilan kreatif). Masing-masing dimensi meliputi berbagai kategori, seperti dimensi kognitif dari kreativitas,berfikir divergen,mencakup antara lain: kelancaran, kelenturan dan orisinalitas dalam berpikir, kemampuan untuk merinci (elaborasi) dan lain-lain.
3.    Tes yang Mengukur Ciri Kepribadian kreatif
Dari berbagai hasil penelitian ditemukan paling sedikit 50 ciri kepribadian yang berkaitan dengan kreativitas. Dari ciri-ciri ini disusun dengan skala yang dapat mengukur sejauh mana seseorang memiliki ciri-ciri tersebut. Beberapa tes untuk mengukur ciri-ciri khusus, diantaranya ialah:
a.        Tes mengajukan pertanyaan
b.        Tes Risk Taking, digunakan untuk menunjukan dampak pengambilan resiko terhadap kreativitas
c.        Tes Figure preference yang menunjukan preferensi untuk ketidakaturan sebagai salah satu ciri kepribadian kreatif
d.       Tes Sex Role Identity untuk mengukur sejauh mana seseorang mengidentifikasikan diri dengan peran jenis kelaminnya.
4.    Pengukuran Potensi Kreatif secara Non-Test
            Mengatasi keterbatasan dari tes kertas dan pensil untuk mengukur kreativitas, dirancang beberapa pendekatan alternatif :
a.    Daftar Periksa (Checklist) dan Kuesioner
b.    Dartar Pengalaman

5.    Pengamatan Langsung terhadap Kinerja Kreatif
            Mengamati bagaimana orang bertindak dalam situasi tertentu, tampaknya merupakan teknik yang paling absah, tetapi memakan waktu dan dapat pula bersifat subjekt
Berdasarkan uraian jenis jenis alat untuk mengukur potensi kreativitas dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan yaitu:
1.    Tes yang mengukur kreativiassecara langsung.
2.    Tes yang mengukur unsure-unsur kreativitas.
3.    Tes yang mengukur ciri kepribadian kreatif.
4.    Pengukuran potensi kreatif secara non-tes.
5.    Pengematan langsung terhadap kinerja kreatif.

LINGKUNGAN YANG MERANGSANG PERKEMBANGAN BAKAT KREATIVITAS
Pada dasarnya setiap anak memiliki potensi untuk kreatif, walaupun tingkat kreativitasnyaberbeda-beda. Kreativitas, seperti halnya setiap potensi lain, perlu diberi kesempatan danrangsang oleh lingkungan untuk berkembang. Perkembangkan kreativitas anak bukan hanyadipengaruhi oleh lingkungan psikis saja, tetapi lingkungan fisik juga memiliki andil yang cukupbesar. Ruang interior sebagai salah satu lingkungan fisik dapat berperan sebagai pendorong atau“press” untuk mengembangkan kreativitas anak, sebagai stimuli eksternal
       Berikut ini beberapa peranan lingkungan fisik pada perkembangan kreativitas:
1.        Peranan Lingkungan Keluarga Dalam Mengembangkan bakat dan kreativitas
Peranan keluarga bagi pengembangan kreativitas, bahwa peran besar dari lingkungan keluarga dan keluarga dengan remaja kreatif, tidak banyak aturan diberlakukan dalam keluarga dibandingakan keluarga yang biasa. Banyak diantara remaja yang kreatif pernah mengalami masa krisis atau trauma dalam hidup mereka. Humor juga merupakan cirri yang tampil dalam keluarga kreatif. Lebih dari separuh remaja tinggi kreatifnya ada pada keluarga dimana salah seorang dari orang tua dinilai sangat kreatif. Berikut ciri-ciri orang tua yang memupuk kreativitas anak  ialah:
a.        Memberi lebih banyak kebebasan pada anak
b.        Menghormati  keunikan anak
c.        Mempunyai  hubungan emosional  yang tidak menyebabkan ketergantungan
d.       Orang tua lebih menghargai prestasi dibandingksn dengan angka semata-mata
e.        Orang tua itu sendiri aktif,mandiri dan menghargai kreativitas anak
f.         Serta menjadi model bagi anak
2. Peran Sekolah Dalam Mengembangkan Kreativitas
Sekolah mempunyai peran penting dalam perkembangan kreativitas anak, sebagai lingkungan yang dapat memupuk dan menggali kreativitas anak. Untuk itu, diperlukan guru yang memiliki kemampuan yang memadai agar dapat mewujudkan kreativitas.
3. Peranan masyarakat dalam mengembangkan kreativitas
Dalam lingkungan masyarakat, seorang anak dapat dipupuk bakat dan kreativitasnya. Namun untuk mendapat hasil yang maksimal, diperlukan kerjasama antara ketiga lingkungan fisik yaitu lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan pendidikan anak berbakat dapat terwujud melalui berbagai bentuk kerja sama. Anak berbakat dapat mengunjungi beberapa tempat kerja bisnis dan organisasi dan memperoleh pelatihan disana. Pemimpin perusaahaan,tokoh-tokoh masyarakat yang memiliki keahlian atau keterampilan dalam bidang tertentu dapat memberi ceramah di sekolah anak berbakat.

Contoh Kasus:
Sampel penelitian terdiri dari 1975 murid Sekolah Dasar kelas 4,5 dan kelas 6 Sekolah Dasar negeri maupun Sekolah Dasar Swasta yang ada di Wilayah DKI Jakarta. Melalui penjaringan yang dilakukan dengan tes inteligensi CFIT Skala 2B dan diikuti oleh tes yang mengukur keberbakatan Renzulli yaitu tes inteligensi WISC-Adapatasi Indonesia, tes kreativitas TKF dan Skala Pengikatan diri terhadap tugas diperoleh sebanyak 67 anak berbakat. Kriteria keberbakatan yang ditetapkan adalah taraf inteligensi 120 ke atas, taraf kreativitas 110 ke atas dan taraf pengikatan diri terhadap tugas 132 ke atas. 
Hipotesis penelitian yang ditegakan mencakup adanya hubungan yang positif dan bermakna antara masing-masing skala identifikasi anak berbakat dengan variabel keberbakatan dan adanya nilai rata-rata pada masing-masing skala identifikasi anak berbakat dari kelompok anak berbakat secara bermakna lebih tinggi dari pada kelompok anak tidak berbakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar