Selasa, 16 Januari 2018

Peranan Intelegensi dan Kreativitas Terhadap Prestasi Belajar Seseorang

  • Peranan intelegensi dan kreativitas terhadap prestasi belajar seseorang :

Intelegensi seseorang diyakini sangat berpengaruh pada keberhasilan belajar yang dicapainya. Berdasarkan hasil penelitian, prestasi belajar biasanya berkolerasi searah dengan tingkat intelegensi. Artinya, semakin tinggi tingkat intelegensi seseorang, maka semakin tinggi prestasi belajar yang dicapainya. Bahkan menurut sebagian besar ahli, intelegensi merupakan modal utama dalam belajar dan mencapai hasil yang optimal. Anak yang memiliki skor IQ dibawah 70 tidak mungkin dapat belajar dan mencapai hasil belajar seperti anak-anak dengan skor IQ normal, apalagi dengan anak-anak jenius.
Kenyataan menunjukkan bahwa setiap anak memiliki tingkat intelegensi yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut tampak memberikan warna di dalam kelas. Selama menerima pelajaran yang diberikan guru, disampaikan oleh guru dan ada pula anak yang  lamban. Perbedaan individu dalam intelegensi ini perlu diketahui dan dipahami oleh guru, terutama dalam hubungannya dengan pengelompokkan siswa. Selain itu, guru harus menyesuaikan tujuan pembelajarannya dengan kapasitas intelegensi siswa. Perbedaan intelegensi yang dimiliki oleh siswa bukan berarti membuat guru harus memandang rendah pada siswa yang kurang, tetapi guru harus mengupayakan agar pembelajaran yang diberikan dapat membantu semua siswa, tentu saja dengan perlakuan metode yang beragam.
Selain itu, perbedaan tersebut juga tampak dari hasil belajar yang dicapai. Tinggi rendahnya hasil belajar yang dicapai oleh siswa bergantung pada tinggi rendahnya intelegensi yang dimiliki. Meski demikian, intelegensi bukan merupakan satu-satunya faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar seseorang. Seperti telah dikemukakan bahwa banyak sekali faktor yang dapat mempengaruhinya. Yang terpenting dalam hal ini adalah guru harus bijaksana dalam menyingkapi perbedaan tersebut.


  • Sikap kreatif sebagai ciri non-bakat dari kreativitas :

Secara umum dapat diterima bahwa produktivitas kreatif di pengaruhi oleh perubahan (variabel) majemuk yang meliputi faktor sikap, motivasi, dan temperatur disamping kemampuan kognitif. Penting atribut kepribadian tertentu yang menjadikan seseorang telah menjadi objek pembahasan berbagai macam studi. Studi yang dilakukan  Roe (1952), MacKinnon (1962), dan Cattell (1968) semuanya menunjukkan bahwa profil kepribadian dari tokoh – tokoh yang unggul kreatif berbeda dari profil kepribadian rata – rata.
Dari studi – studi faktor analisis seputar ciri – ciri utama dari kreativitas Guilford (1959) membedakan antara ciri bakat (aptitude trait) dan ciri non – bakat (non – aptitude trait) yang berhubungan dengan kreativitas. Ciri – ciri aptitude dari kreativitas (berpikir kreatif) meliputi kelancaran, kelenturan dan keluwesan (fleksibilitas), dan orisinalitas dalam berpikir, dan ciri – ciri ini dioperasionalisasikan dalam tes berpikir divergen. Sejauh mana seseorang mampu menghasilkan prestasi kreatif ikut ditentukan oleh ciri – ciri non aptitude (efektif).
Penelitian berdasarkan analisis faktor menunjukkan korelasi yang statistik bermakna (signifikan) walaupun rendah, antara ciri – ciri non – aptitude atau afektif ini, misalnya kepercayaan diri, keluwetan, apresiasi estetik, kemandirian dan ciri – ciri aptitude dari kreativitas misalnya kelancaran, kelenturan, dan orisinalitas dalam berpikir.
Sehubungan dengan itu pengembangan kreativitas seseorang tidak hanya memperhatikan pengembangan kemampuan berpikir kreatif tetapi juga pemupukan sikap dan ciri – ciri kepribadian kreatif. Keberbakatan (giftdness) merupakan perpaduan antara kemampuan umum atau kecerdasan (inteligensi), kreativitas (kemampuan berpikir kreatif dan sikap kreatif), dan pengikat diri terhadap tugas (task – commitment) atau motivasi – internal, yang juga merupakan non aptitude trait.

  • Konsep kreativitas dan hubungannya dengan aktualisasi diri :

Salah satu konsep yang amat penting dalam bidang kreativitas adalah hubungan antara kreativitas dan aktualisasi diri. Menurut psikolog humanis, seperti Abraham Maslow dan Carl Rogers, aktualisasi diri ialah apabila seseorang menggunakan semua bakat dan talentanya untuk menjadi apa yang ia mampu menjadi mengaktualisasikan atau mewujudkan potensinya. Pria yang dapat mengaktualisasikan dirinya adalah seseorang yang sehat mental, dapat menerima dirinya, selalu tumbuh, berfungsi sepenuhnya, berpikiran demokratis, dan sebagainya. Menurut Maslow (1968) aktualisasi diri merupakan karakteristik yang fundamental, suatu potensialitas yang ada pada semua manusia saat dilahirkan, akan tetapi yang sering hilang, terhambat atau terpendam dalam proses pembudayaan.
Rogers menekankan (1962) bahwa sumber dari kreativitas adalah kecenderungan untuk mengaktualisasi diri, mewujudkan potensi, dorongan untuk berkembang dan menjadi matang, kecenderungan untuk mengekspresikan dan mengaktifkan semua kemampuan organisme. Clark Moustakis (1967), psikolog humanistik lain yang terkemuka, menyatakan bahwa kreativitas adalah pengalaman mengekspresikan dan mengaktualisasikan identitas individu dalam bentuk terpadu dalam hubungan dengan diri sendiri, dengan alam, dan dengan orang lain.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa aktualisasi diri dan kreativitas saling berkaitan dan berkorelasi. Yonge (1975) menemukan korelasi positif antara skor pada ukuran aktualisasi diri (Personal Orientation Inventory, Shostrum, l963) dan beberapa ukuran kreativitas, seperti skala kreativitas “Adjective Checklist”.

Teori Kreativitas

Teori yang melandasi pengembangan kreativitas dapat di bedakan menjadi tiga (Munandar,2009) yaitu:
a. Teori Psikoanalisis
Pada umumnya teori-teori psikoalanisis melihat kreativitas sebagai hasil suatumasalah, yang biasanya mulai di masa anak. Pribadi kreatif dipandang sebagaiseseorang yang pernah mempunyai pengalaman traumatis, yang dihadapi dengan memungkinkan gagasan-gagasan yang disadari dan tidak disadari bercampur menjadi pemecahan movatif dari trauma. Tindakan kreatif mentransformasi keadaan piskis yang tidak sehat menjadi sehat.

Teori ini terdiri dari :
1). Teori FreudSigmund Freud (1956-1939) menjelaskan proses kreatif dari mekanisme pertahanan(defence mechanism).
Ia menjelaskan proses kreatif dari mekanisme pertahanan, yang merupakan upaya tak sadar untuk menghindari kesadaran mengenai ide-ide yang tidak menyenangkan atau yang tidak dapat diterima. 
Freudpercaya bahwa meskipun kebanyakan mekanisme pertahanan menghambat tindakan kreatif,mekanisme sublimsi justru merupakan penyebab utama kreativitas karena kebutuhan seksual tidak dapat dipenuhi, maka terjadi sublimasi dan merupakan awal imajinasi. Jenis mekanisme pertahanan antara lain, yaitu represi, konpensasi, sublimasi,rasionalisasi, identifikasi, introjeksi, regresi, proyeksi, pembentukan reaksi, pemindahan, kompartementalisasi.

2). Teori Ernt KrisTeori Ernt Kris (1900-1957) menjelaskan bahwa jika seseorang mampu
untuk “regress” ke kerangka berpikir atau pola perilaku seperti anak, rintangan antara alam pikiran sadar dan tidak sadar menjadi kurang, dan bahan yang tidak disadariyang sering mengandung benih kreativitas dapat menembus ke alam kesadaran. Teori ini mengatakan bahwa orang-orang kreatif adalah mereka yang paling mampu memanggil bahan-bahan dari alam pikiran tidak sadar. Sebagai orang dewasa kita tidak pernah seperti anak lagi. Orang kreatif tidak mengalami hambatan untuk bisa seperti anak dalam pemikiran mereka. Mereka dapat mempertahankan sikap bermain dengan masalah-masalah serius dalam kehidupan. Dengan demikian, mereka mampu melihat masalah-masalah dengan cara yang segar dan inovatif untuk “Regress in the service of the ego”.

 3). Teori Carl JungCarl Jung (1875-1967) percaya bahwa alam ketidak sadaran (ketidaksadaran kolektif) memainkan peranan yang sangat penting dalam pemunsulan kreativitas tingkat tinggi. Dari ketidaksadaran kolektif ini timbul penemuan, teori, seni dan karya-karya baru lainnya.



b. Teori Humanistik
Berbeda dari teori psikoanalisis, teori humanistik melihat kreativitas sebagai hasil dari kesehatan psikologis tingkat tinggi. Kreativitas dapat berkembang selama hidup, dan tidak terbatas pada lima tahun pertama.Teori Humanistik meliputi :

1). Teori Maslow 
Menurut Abraham Maslow (1908-1970) pendukung utama dari teorihumanistik, manusia naluri-naluri dasar yang menjadi nyata sebagai kebutuhan. Kebutuhan ini harus dipenuhi dalam urutan tertentu, kebutuhan primitif muncul pada saat lahir, dan kebutuhan tingkat tinggi berkembang sebagai proses pematangan. Proses perwujudan diri erat dengan kreativitas. Bila bebas dari neurosis, orang yang mewujudkan dirinya mampu memusatkan dirinya pada yang hakiki.

Hirarki Kebutuhan Menurut Maslow Jenis Kebutuhan Tingkat Kebutuhan
Kebutuhan faal yang diperlukan untukmempertahankan hidup seperti air, makanan, minuman, udara, zat asam.
Kebutuhan keamanan. Sebagai manusia, kita perlu merasa bebas dariancaman terhadap hidupkita, seperti kebutuhan akan keakraban,keteraturan, dan mempunyai rumah tempattinggal.
Kebutuhan akan belonging dan cinta. Semua orang ingin merasakan bahwa mereka tergolong pada sesuatu dan bahwa paling tidak satu orang mencintai/menyayanginya.
Kebutuhan akan penghargaan dan harga diri. Kita perlu merasa bahwa kita berharga danmampu, dan bahwa masyarakat menghargai sumbangan kita terhadapnya.
Kebutuhan aktualitas diri. Kebutuhan akan pengembangan dan perwujudan potensi kita sepenuhnya, termasuk imajinasi dan kreativitas.
Kebutuhan estetik. Kebutuhan untuk memberi sumbangan bermakna untuk kemanusiaan. Hasrat untuk memahami dunia sekeliling kita dan tujuan hidup. Kebutuhan ini berada pada tingkat sangat tinggi dan hanya sedikit orangyang mengalaminya (misalnya Albert Eistein).
Urutan dari hrarki kebutuhan ini jelas yaitu tidak ada yang dapat mewujudkan dirinya jika menderita karena kelaparan. Keempat kebutuhan pertama disebut kebutuhan “deficiency” karena mungkin dapat dipuaskan sampai tidak dirasakan sebagai kebutuhan lagi. Misalnya, jika kita lapar kita dapat makansepuasnya sehingga kebutuhan terpenuhi. Dua kebutuhan pada tingkat tinggi (aktualisasi dan estetik) disebut kebutuhan “being”, karena jika dipupuk kebutuhan itu menjadi semakin kuat, yang memperkaya keberadaan kita. Contohnya, belajar memahami dan menghargai desain meningkatkan hasrat untuk belajar lebih banyaktentang desain. Proses pewujudan diri erat kaitannya dengan kreativitas.

2). Teori RogersMenurut Carl Rogers (1902-1987) tiga kondisi pribadi yang kreatif adalah:
a). Keterbukaan terhadap pengalaman 
b). Kemampuan untuk menilai situasi dengan patokan pribadi seseorang(internal locus of evaluation).
c). Kemampuan untuk bereksperimen, untuk “bermain” dengan konsep-konsep.Setiap orang yang mempunyai ketiga ciri ini kesehatannya psikologinyasangat baik. Orang ini berfungsi sepenuhnya, menghasilkan karya-karya kreatif, dan hidup secara kreatif.

Ketiga ciri atau kondisi tersebut juga merupakan dorongan dari dalam untuk berkreasi (internalpress).

c.Teori Cziksentmihalyi
Ciri pertama yang memudahkan tumbuhnya kreativitas adalah Predisposisigenetis (genetic predispotition). Contoh seorang yang sistem sensorisnya peka terhadap warna lebih mudah menjadi pelukis, peka terhadap nada lebih mudahmenjadi pemusik.

a.       Minat pada usia dini pada ranah tertentu: 
Minat menyebabkan seseorang terlibat secara mendalam terhadap ranah tertentu, sehingga mencapai kemahiran dan keunggulan kreativitas. 

b.      Akses terhadap suatu bidang: 
Adanya sarana dan prasarana serta adanya pembina/mentor dalam bidang yang diminati   sangat membantu pengembangan bakat.
  
c.       Access to a field: 
Kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi dengan teman sejawat + tokoh-tokoh penting dalam bidang yang digeluti, memperoleh informasi yang terakhir, mendapatkan kesempatan bekerja sama dengan pakar-pakar dalam b idang yang diminati sangat penting untuk mendapatkan pengakuan + penghargaan dari orang-orang penting.    

Orang-orang kreatif ditandai adanya kemampuan mereka yang luar biasa untuk menyesuaikan diri terhadap hampir setiap situasi dan untuk melakukan apa yang perlu untuk mencapau tujuannya

Upaya Mengatasi Hambatan dalam Pengembangan Kreativitas dan Bakat

Adams (1986) menyatakan adanya beberapa cara atau strategi yang secara umum dapat digunakan untuk membantu kita dalam kinerja kreatif:
(1)  Menggunakan cara-cara yang non-verbal, seperti: berpikir visual (dalam gambaran atau bayangan), atau yang mengandalkan alat indra lainnya,
(2)   Mempunyai sikap mempertanyakan (questioning), atau menyelidiki (inquisitive),
(3)   Memiliki kelancaran dan kelenturan dalam berpikir,
(4)   Menggunakan teknik-teknik kreatif

Kendala terhadap produktifitas kreatif dapat bersifat internal, yaitu berasal dari individu itu sendiri. Dapat pula bersifat eksternal, yaitu terletak pada lingkungan individu, baik lingkungan makro maupun lingkungan mikro. Kendala internal yaitu keyakinan bahwa lingkunganlah yang menyebabkan dirinya tidak mempunyai kesempatan mengembangkan kreativitasnya. Kendala eksternal antara lain yaitu tentang evaluasi, pujian, perasaan diamati selagi mengerjakan sesuatu, pemberian hadiah dan persaingan.
Dalam situasi pendidikan, hendaknya tidak selalu hanya ditekankan produk yang dihasilkan. Proses bersibuk diri secara kreatif perlu juga mendapat penghargaan dari pendidik. Yang perlu dirangsang dan dipupuk adalah sikap dan minat untuk melibatkan diri dalam kegiatan kreatif. Mengembangkan kreativitas anak didik meliputi segi:
Pengembangan kognitif, antara lain dilakukan dengan merangsang kelancaran, kelenturan, dan keaslian dalam berpikir.
Pengembangan afektif, dilakukan dengan memupuk siap dan minat untuk bersibuk diri secara kreatif.
 Pengembangan psikomotorik, dilakukan dengan menyediakan sarana dan prasarana pendidikan yang memungkinkan siswa mengembangkan ketrampilannya dalam membuat karya-karya yang produk-inovatif.
Dari beberpapa hambatan baik yang berasal dari diri sendiri maupun dari lingkungan luar, maka diperlukan cara untuk mengatasi hambatan tersebut.
1.   Melakukan apa yang kita dapat lakukan.
Dengan melakukan hal sesuai dengan kemampuan kita dan tidak muluk-muluk pada cita-cita yang jauh dari beberapa factor pendukung pencapaian karir, maka karir kita akan berjalan dengan baik waktu demi waktu.
2.   Bersabar
Keberhasilan tidak pernah datang secara instan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk melatih kesabaran diri sekaligus mematangkan mental kita dalam menghadapi kegagalan.
3.   Percaya pada kemampuan diri
Semakin percaya dengan kemampuan yang kita miliki maka akan diri kita akan termotivasi tersendiri untuk menunjang karir dengan baik. Pada dasarnya, orang yang merasa ragu pasti pada akhirnya akan mengalami kegagalan.
4.   Selalu berfikir positif
Dengan selalu berfikir positif, maka kira tidak akan ragu dengan jalan yang kita telusuri.
5.   Fokus dengan karir yang kita citakan
Fokus adalah salah satu hal yang krusial bagi kita yang sedang dalam proses pencapaian cita-cita. Dengan selalu fokus terhadap yang kita citakan, maka masalah yang selalu membisiki kita dalam beraktifitas tidak akan mempengaruhi tercapainya karir.