- Peranan intelegensi dan kreativitas terhadap prestasi belajar seseorang :
Intelegensi seseorang diyakini sangat berpengaruh pada keberhasilan belajar yang dicapainya. Berdasarkan hasil penelitian, prestasi belajar biasanya berkolerasi searah dengan tingkat intelegensi. Artinya, semakin tinggi tingkat intelegensi seseorang, maka semakin tinggi prestasi belajar yang dicapainya. Bahkan menurut sebagian besar ahli, intelegensi merupakan modal utama dalam belajar dan mencapai hasil yang optimal. Anak yang memiliki skor IQ dibawah 70 tidak mungkin dapat belajar dan mencapai hasil belajar seperti anak-anak dengan skor IQ normal, apalagi dengan anak-anak jenius.
Kenyataan menunjukkan bahwa setiap anak memiliki tingkat intelegensi yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut tampak memberikan warna di dalam kelas. Selama menerima pelajaran yang diberikan guru, disampaikan oleh guru dan ada pula anak yang lamban. Perbedaan individu dalam intelegensi ini perlu diketahui dan dipahami oleh guru, terutama dalam hubungannya dengan pengelompokkan siswa. Selain itu, guru harus menyesuaikan tujuan pembelajarannya dengan kapasitas intelegensi siswa. Perbedaan intelegensi yang dimiliki oleh siswa bukan berarti membuat guru harus memandang rendah pada siswa yang kurang, tetapi guru harus mengupayakan agar pembelajaran yang diberikan dapat membantu semua siswa, tentu saja dengan perlakuan metode yang beragam.
Selain itu, perbedaan tersebut juga tampak dari hasil belajar yang dicapai. Tinggi rendahnya hasil belajar yang dicapai oleh siswa bergantung pada tinggi rendahnya intelegensi yang dimiliki. Meski demikian, intelegensi bukan merupakan satu-satunya faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar seseorang. Seperti telah dikemukakan bahwa banyak sekali faktor yang dapat mempengaruhinya. Yang terpenting dalam hal ini adalah guru harus bijaksana dalam menyingkapi perbedaan tersebut.
- Sikap kreatif sebagai ciri non-bakat dari kreativitas :
Secara umum dapat diterima bahwa produktivitas kreatif di pengaruhi oleh perubahan (variabel) majemuk yang meliputi faktor sikap, motivasi, dan temperatur disamping kemampuan kognitif. Penting atribut kepribadian tertentu yang menjadikan seseorang telah menjadi objek pembahasan berbagai macam studi. Studi yang dilakukan Roe (1952), MacKinnon (1962), dan Cattell (1968) semuanya menunjukkan bahwa profil kepribadian dari tokoh – tokoh yang unggul kreatif berbeda dari profil kepribadian rata – rata.
Dari studi – studi faktor analisis seputar ciri – ciri utama dari kreativitas Guilford (1959) membedakan antara ciri bakat (aptitude trait) dan ciri non – bakat (non – aptitude trait) yang berhubungan dengan kreativitas. Ciri – ciri aptitude dari kreativitas (berpikir kreatif) meliputi kelancaran, kelenturan dan keluwesan (fleksibilitas), dan orisinalitas dalam berpikir, dan ciri – ciri ini dioperasionalisasikan dalam tes berpikir divergen. Sejauh mana seseorang mampu menghasilkan prestasi kreatif ikut ditentukan oleh ciri – ciri non aptitude (efektif).
Penelitian berdasarkan analisis faktor menunjukkan korelasi yang statistik bermakna (signifikan) walaupun rendah, antara ciri – ciri non – aptitude atau afektif ini, misalnya kepercayaan diri, keluwetan, apresiasi estetik, kemandirian dan ciri – ciri aptitude dari kreativitas misalnya kelancaran, kelenturan, dan orisinalitas dalam berpikir.
Sehubungan dengan itu pengembangan kreativitas seseorang tidak hanya memperhatikan pengembangan kemampuan berpikir kreatif tetapi juga pemupukan sikap dan ciri – ciri kepribadian kreatif. Keberbakatan (giftdness) merupakan perpaduan antara kemampuan umum atau kecerdasan (inteligensi), kreativitas (kemampuan berpikir kreatif dan sikap kreatif), dan pengikat diri terhadap tugas (task – commitment) atau motivasi – internal, yang juga merupakan non aptitude trait.
- Konsep kreativitas dan hubungannya dengan aktualisasi diri :
Salah satu konsep yang amat penting dalam bidang kreativitas adalah hubungan antara kreativitas dan aktualisasi diri. Menurut psikolog humanis, seperti Abraham Maslow dan Carl Rogers, aktualisasi diri ialah apabila seseorang menggunakan semua bakat dan talentanya untuk menjadi apa yang ia mampu menjadi mengaktualisasikan atau mewujudkan potensinya. Pria yang dapat mengaktualisasikan dirinya adalah seseorang yang sehat mental, dapat menerima dirinya, selalu tumbuh, berfungsi sepenuhnya, berpikiran demokratis, dan sebagainya. Menurut Maslow (1968) aktualisasi diri merupakan karakteristik yang fundamental, suatu potensialitas yang ada pada semua manusia saat dilahirkan, akan tetapi yang sering hilang, terhambat atau terpendam dalam proses pembudayaan.
Rogers menekankan (1962) bahwa sumber dari kreativitas adalah kecenderungan untuk mengaktualisasi diri, mewujudkan potensi, dorongan untuk berkembang dan menjadi matang, kecenderungan untuk mengekspresikan dan mengaktifkan semua kemampuan organisme. Clark Moustakis (1967), psikolog humanistik lain yang terkemuka, menyatakan bahwa kreativitas adalah pengalaman mengekspresikan dan mengaktualisasikan identitas individu dalam bentuk terpadu dalam hubungan dengan diri sendiri, dengan alam, dan dengan orang lain.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa aktualisasi diri dan kreativitas saling berkaitan dan berkorelasi. Yonge (1975) menemukan korelasi positif antara skor pada ukuran aktualisasi diri (Personal Orientation Inventory, Shostrum, l963) dan beberapa ukuran kreativitas, seperti skala kreativitas “Adjective Checklist”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar