Mitos Cetik Di Bali
CETIK
BALI
Cetik
adalah sejenis racun khas Bali, yang digunakan untuk
"mencelakai" orang lain.
Mengenai
apa itu "Cetik Bali", dan Berikut ini Sebuah Fragmen yang Dapat
Digunakn sebagai Bahan Analisis Kritis dalam Rangka Memahami seluk-beluk Cetik
dalam Masyarakat Hindu Bali. Berikut sepenggal kisah nyata yang pernah dialami
oleh seorang pria yang saya rahasiakan identitasnya.
Seorang pria yang
telah memiliki dua putra, tiba-tiba muntah darah. Istrinya mencoba
mengingat-ingat apa penyebab penyakit suaminya itu. Sejenak kemudian sang istri
seakan menemukan jawaban yang pasti bahwa penyebab sakit suaminya adalah
makanan yang disantapnya ketika menghadiri undangan upacara perkawinan putra
seorang teman sekerjanya. Diektahuinya kalau hubungan sang suami dengan teman
sekerjanya itu kurang begitu baik, karena persaingan tersembunyi di kantor.
Suaminya pernah menceritakan kalau temanya itu selalu berusaha menggagalkan
kenaikan pangkat dan posisi jabatanya. Bermacam-macam cara telah digunakan,
antara lain menggunakan "pepasangan" yang diletakan ditempatkan
tertentu, menyebarkan gosip yang bukan-bukan, dan mengajak makan bersama, namun
suaminya menolak dengan halus.
Memang pada jaman
ini hal seperti itu sangat tidak masuk akal, karena tidak disertai berbagai
bukti secara ilmiah, mengingat tehknologi saat ini sangat berubah dan
berkembang terus dan secara otomatis pemikiran manusia semakin intelektual.
Tapi jika lebih ditelusuri, di dalam berbagai kepercayan masyarakat tentang
ilmu "magic" memang tidak dapat dihilangkan, karena pikiran manusia
tidak dapat menjangkau hal-hal yang kurang bersifat ilmiah atau masuk akal. Di
Bali khususnya, paham dinamisme masih sangat kental dalam tradisional
masyarakat Bali. Kepercayan pada ilmu-ilmu "magic" masih dirasakan
keberadaanya. Budaya Bali sangat beraneka ragam kepercayaan maupun adat
istiadatnya. Dalam budaya kesusastraan Bali, masyarakat sangat percaya dan
meng-sakralkan hal-hal yang berbau magis. Contohnya naskah-naskah kesusastraan
yang sangat fenomenal di Bali adalah cerita "Calon
Arang" yang inti ceritanya menggambarkan dua kekuatan, dua
sikap, dua kubu, dan dua "warna", yakni kekuatan positif (Dharma) dan
negatif (Adharma) tidak dapat dipisahkan dalam dunia ini. Kisah-kisah yang
demikian banyak dan mencoba meyakinkan pendengarnya. Bagaimana reaksi kita saat
mendengarkan narasi-narasi seperti itu? Pada saat tertentu kita sama sekali
tidak mempercayainya, namun pada kesempatan lain kepercayaan kita menjadi
demikian kuat oleh karena telah hadir fakta-fakta konkret di depan mata, namun
tidak dapat dipahami secara rasional.
Secara singkat, akan
ulas apa saja jenis-jenis cetik itu dan bagaiman pula cara sang
pelaku men-cetik korbannya.
Cara Pelaku Menyerang Korban
Menurut I Gusti Ngurah Harta, cara tak langsung
umumnya tidak memperlihatkan pelakunya, sebab pelakunya dapat mengendalikan
kekuatan cetik-nya dari jauh. Namun demikian, ada dua hal yang dapat
diperhatikan dari cara tidak langsung ini. Pertama, umumnya cara tak
langsung dilaksanakan pada hari tertentu, yakni Budha Kliwon. Kedua, Kondisi calon
korban dalam keadaan yang tidak terproteksi, antara lain disebabkan pikiran
sedang kacau. (Telah saya singgung sebelumnya dalam posting Berawal dari Pikiran, dimana semua energi
yang nantinya kita dapatkan bersumber dari pikiran yang merupakan kunci dari
segalanya). Selanjutnya Beliau juga menyarankan sikap waspada dan hati-hati
dengan tidak mengabaikan intuisi (kleteg bayu).
Sementara Soelung
Lodhaya menyarankan untuk meningkatkan kewaspadaan itu seyogianya seseorang
membekali dirinya dengan "bebundelan" taring harimau, gigi badak,
batu permata tertentu, yang telah dipasupati. Disamping itu kita harus meningkatkan
keyakinan pada sang pencipta Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar selalu dilindungi.
Disamping memahami
bagaimana cara orang memasukkan cetik ke dalam tubuh calon korbannya, juga
perlu diketahui apakah cetik itu memiliki efek seketika atau agak lama. Cetik
berefek seketika, maksudnya kalau seseorang memakan sesuatu yang mengandung
cetik, maka segera akan terlihat gejala-gejalanya tergantung dari bahan-bahan
cetik itu sendiri. Aad pula cetik berefek agak lama, dengan inkubasi 3-6
bulan. Dalam hal ini, seandainya cetik itu termakan sekarang, maka orang akan
merasakan sakitnya secara bertahap dengan puncak sekitar 3-6 bulan yang akan
datang.
Bila pengguna cetik
berkeinginan agar si korban sakit dan mati secara perlahan, maka ia dapat
menggunakan cetik dengan bahan-bahan seperti berikut.
Nama Cetik dan Komposisi Bahan
1.
Cetik Gringsing.
Terbuat
dari Yuyu Gringsing atau semacam gurita berwarna merah. Yuyu ini
dimasukkan ke dalam botol, dan disimpan dalam tanah selama 6 bulan. Setelah itu
menghasilkan minyak. Minyak inilah yang digunakan sebagai cetik ditambah dengan
minyak (Lengis Nyuh) untuk memperbanyak volumenya.
2.
Cetik Krawang.
Dibuat dari kerikan
gong gangsa dicampur dengan "medang tiing gading" dan medang
"tiing buluh" (medang adalah bulu halus pada bambu).
3.
Cetik Buntek.
Dibuat dari
usus Be Buntek.
4.
Cetik Singar Mangsi.
Dibuat
dari Lateng Layar di Laut.
5.
Cetik Jinten.
Dibuat dari tulang
manusia, prosesnya memerlukan waktu yang cukup panjang.
6.
Cetik Badung.
Dibuat dari air yang
keluar dari orang meninggal (Banyeh)didiamkan, ambil bagian beningnya dengan
kapas, lalu taruh dipertigaan desa, kemudian sebut nama dan tempat orang yang
disakiti disertai dengan mantera-mantera tertentu. (Sumber: Budhi,1993:
47)
Beberapa Jenis Cetik, Gejala penyakit dan Pengobatannya
1.
Cetik Croncong Polo
Diantara semua cetik
yang disebutkan dalam beberapa lontar usada di Bali, masyarakat lebih mengenal
cetik Croncong Polo karena dianggap paling menakutkan dan persepsi sebagai racun
yang paling menyakitkan dan berbahaya. Persepsi ini tentu saja terbentuk dari
pemaknaan kata Croncong Polo, yang diartikan racun yang menyerang
otak. Persepsi ini terbentuk bukan oleh unsur atau komposisi cetik, melainkan
gejala dan hasil yang tampak pada si korban. Gejalanya yaitu, mata merah, badan
terasa panas, telinga penderita terasa pecah, seperti diseruduk "dilumbih
beduda". Dalam lontar usada sarana yang digunakan untuk menyembuhkan
cetik ini yaitu Keong Kraca, Madu Klupa, Air Jeruk, Belerang Merah. Obat
ini digunakan diteteskan ke hidung
2.
Reratusan
Reratusan adalah jenis cetik yang
menempati urutan kedua setelah Cetik Croncong Polo. Jenis cetik
inilah yang paling sering disebutkan dalam lontar Usada Cetik. Tak disebutkan
pusat yang diserang oleh cetik ini, namun dapat dapat diperkirakan bahwa
perutlah yang diserangnya, jika dilihat dari bahan-bahan yang digunakan,
yakni Reratusan atau campuran. Ciri-ciri jika terkena cetik ini
antara lain perut penderita kembung dan muntah darah, penderita batuk-batuk,
merasa kedinginan, dan melihat suatu objek atau benda dirasakan bergerak-gerak,
pikiran si penderita bingung seperti orang mabuk, dan kaki dingin. Menurut
lontar Usada Cetik (bait ke 29) menyebutkan bahwa sarana yang digunakan untuk
menyembuhkan gejala-gejala cetik reratusan tersebut adalah daun sirih tua,
bawang dibakar, gula, air kelapa mulung yang muda, lalu diminum
(tidak dijelaskan bagaimana cara mengolahnya).
Menurut saya mitos ini termasuk kedalam cerita rakyat atau mitos yang sebenarnya, karena mitos itu sendiri merupakan cerita rakyat yang dianggap sesuatu yang benar-benar terjadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar