Talkshow ini diadakan oleh BEM
Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma pada bulan Mei 2016 di Kmpus D
Universitas Gunadarma.
Pembicara:
1.
Arist Merdeka Sirait (Ketua Komisi
Perlindungan Anak)
2.
Katarina Ira Puspitawati .M.PSI
3.
Zelda Maharani (Anak ABK)
Materi yang dibahas
oleh ibu Katarina adalah bagaimana cara mengidentifikasi apakah anak tersebut
ABK atai tidak? Menurut ibu Katarina darisudut pandang psikologis yaitu dengan
melihat perkembangan anak, sebagai orang tua harus memahami sikap anak dari awal
masa pertumbuhan. Terkadang sering terjadi tantrum pada si anak.
Tantrum (atau tantrum temper) adalah ledakan emosi,
biasanya dikaitkan dengan anak-anak atau orang-orang dalam kesulitan emosional,
yang biasanya ditandai dengan sikap keras kepala, menangis, menjerit,
berteriak, menjerit-jerit, pembangkangan, mengomel marah, resistensi terhadap
upaya untuk menenangkan dan, dalam beberapa kasus, kekerasan. Kendali fisik
bisa hilang, orang tersebut mungkin tidak dapat tetap diam, dan bahkan jika
"tujuan" orang tersebut dipenuhi dia mungkin tetap tidak tenang.
Tantrum adalah
salah satu bentuk yang paling umum dari perilaku bermasalah pada anak-anak
tetapi cenderung menurun dalam frekuensi dan intensitas begitu anak tumbuh.
Pada balita, tantrum atau amukan dapat dianggap sebagai normal, bahkan sebagai
pengukur dari kekuatan pengembangan karakter.
Sementara amukan
kadang dilihat sebagai prediktor perilaku anti-sosial pada masa depan, dalam
arti lain ia sekadar tanda frustrasi yang berlebihan yang sesuai dengan usia,
dan akan berkurang seiring waktu diberi penanganan yang tenang dan konsisten. Namun
Selma Fraiberg memperingatkanm tekanan luar dan kontrol yang berlebihan dalam
membesarkan anak bisa memprovokasi tantrum dan pembibitan pemberontakan.
Wanita kadang menjerit dan berteriak, tapi tantrum berbeda
dari rata-rata perilaku wanita. Tantrum pada seorang wanita cenderung dianggap
tidak masuk akal dan tidak bisa ditenangkan. Dia bisa meledak atas hal-hal
kecil dan tampak tidak memiliki kontrol atas emosinya. Dia bahkan mungkin
mengatakan hal-hal yang menyakitkan. Tantrum atau amukan demikian memiliki satu
tujuan: untuk membuat keadaan di sekitarnya tidak nyaman sampai seseorang
(biasanya pasangannya) memberikan apa yang dia inginkan. Namun jika dia
mendapat apa yang dia inginkan, tantrumnya akan lebih sering.
Penyebab terjadinya temper tantrum
diantaranya adalah terhalangnya keinginan anak anda dalam mendapatkan sesuatu,
ketika tidak berhasil dalam memenuhi keinginannya maka kemungkinan anak anda
melakukan beberapa ekspresi-ekspresi kemarahan, selain itu temper tantrum dapat
disebabkan oleh ketidakmampuan dalam mengungkapkan keinginan diri anak anda
sehingga anak anda menuntut anda untuk memahaminya, sedangkan selanjutnya
adalah perasaan tertekan yang dialami oleh anak anda sehingga melepaskan stress
yang dialaminya. Salah satu contohnya adalah ketika anak anda diajak dalam
suatu perjalanan yang jauh dan melelahkan, tiba tiba menginginkan sesuatu yang
tidak dimengerti oleh anda. Terakhir penyebab temper tantrum adalah pola asuh orang tua yang
yang menyebabkan tantrum yaitu anak anda terlalu dimanjakan dan mendapatkan
penolakan atas keinginannya. Salah satu yang harus diperhatikan adalah pola
asuh orang tua. Pola asuh dapat diartikan perlakuan orang tua yang sangat
mendasar. Hal yang harus diperhatikan adalah perilaku yang patut dicontoh yang
ditimbulkan oleh orang tua pada anak, sehingga anak
anda akan mengikuti kebiasaan anda. Selanjutnya kesadaran diri, berhubungan
dengan mendorong perilaku anak dalam kesehariannya pada nilai-nilai moral.
Terakhir yang tidak kalah penting adalah komunikasi antara anda dan anak. Orang
tua akan menerapkan pola komunikasi yang baik dalam membentuk hubungan bersama
anaknya untuk menghindari ekspresi seperti temper tantrum anak.
Untuk mengatasi perilaku tantrum pada anak, ada beberapa hal yang perlu dilakukan, agar baik orangtua dan anak, sama-sama belajar terhadap situasi yang sedang dialami oleh si anak. Pertama, biarkan anak dengan perilaku tantrumnya. Orangtua sebaiknya menanggapi wajar perilaku anak tersebut. Diamkan saja, sambil pantau kondisi sekitar, pastikan anak aman dari bahaya.
Untuk mengatasi perilaku tantrum pada anak, ada beberapa hal yang perlu dilakukan, agar baik orangtua dan anak, sama-sama belajar terhadap situasi yang sedang dialami oleh si anak. Pertama, biarkan anak dengan perilaku tantrumnya. Orangtua sebaiknya menanggapi wajar perilaku anak tersebut. Diamkan saja, sambil pantau kondisi sekitar, pastikan anak aman dari bahaya.
Kedua, jangan marah apalagi memukuli anak. Karena marah tidak
akan menghentikan tantrum anak, bahkan anak cenderung meningkatkan perilaku
tersebut. Kunci menghadapi anak yang tantrum adalah sabar. Sabar
merupakan salah satu bentuk komunikasi orangtua dengan anak, bentuk komunikasi
ini akan lebih efektif dibanding marah maupun memberikan hukuman fisik. Anak
belajar sabar melalui perilaku sabar yang ditampilkan orangtua.
Ketiga, jangan langsung memenuhi keinginan anak saat sedang tantrum.
Ingat, anda sedang “berperang” dengan anak, memenuhi kebutuhan anak saat itu
tidak akan menyelesaikan masalah, malah akan menimbulkan masalah baru. Beri
penjelasan sederhana, misalnya dengan mengatakan bahwa mainan jenis
tersebut sudah dimiliki atau sebaiknya main dengan mainan yang sudah ada.
Penjelasan tanpa emosi lebih dapat dipahami dan diterima oleh anak.
Keempat, komunikasi antar orangtua penting. Sebelum menangani anak
dengan tantrum, orangtua harus paham terlebih dahulu mengenai konsep tantrum
dan bagaimana harus bertindak. Kesepakatan orangtua penting, agar
anak melihat orangtuanya secara seimbang. Jangan sampai anak memposisikan ayah
sebagai “pahlawan” karena keinginannya dibela dan ibu sebagai “musuh” karena
keinginannya ditentang, atau sebaliknya.
Kelima, beri pengertian orang sekitar, terutama kakek dan nenek.
Salah satu hal yang menggagalkan upaya kita mengatasi anak tantrum adalah
tentangan dari kakek nenek, biasanya mereka akan langsung memenuhi kebutuhan
anak bahkan cenderung memanjakan anak. Hal ini tentu saja tidak baik bila terus
dilakukan. Beri penjelasan kepada orang tua, alasan mengapa kita
membiarkan anak tantrum. Bila perlu, diskusikan mengenai hasil penelitian
dengan bahasa yang mudah dimengerti.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar